Oleh: Mandira Bienna Elmir

Masih teringat bagi saya, saat MRT sedang diujicobakan secara gratis bagi masyarakat sekitar. Euforia masyarakat tinggi sekali hingga masyarakat berbondong-bondong mencoba sesuatu yang baru di Indonesia: kereta bawah tanah. Untuk yang sudah pernah mencoba MRT di negara lain, pasti ini bukan hal yang baru. Kemudian menjadi viral, saat netizen mengirimkan foto2 kelakuan masyarakat yang ‘kampungan’ karena gelendotan di dalam gerbong, buang sampah sembarangan, hingga piknik gelar tikar di dalam stasiun.

Entah mengapa, generasi yang kini mengagungkan dunia internet sepertinya membuat masyarakat gagap bertegur sapa di dunia nyata. Ketimbang mengingatkan secara langsung, akhirnya masyarakat lebih senang mempostingnya di internet, kemudian cita-cita nya tercapai: postingan menjadi viral, si pelaku ‘kampungan’ menjadi terkenal dengan wajah tidak di sensor, dan berbondong-bondong masyarakat menghinanya.

Sebagai orang yang lumayan sering pakai MRT pun, saya tidak bosan-bosan mengingatkan secara langsung jika ada masyarakat yang tidak sesuai dengan etika baik di dalam stasiun maupun di dalam MRT nya itu sendiri. Yang paling sering adalah jalur keluar yang sering ditutupi oleh orang yang ingin masuk MRT, mengingatkan dengan cara yang baik tidak akan menyakiti mereka, tapi justru menambah pengetahuan masyarakat bahwa terdapat etika-etika dalam penggunaan transportasi umum yang mungkin selama ini tidak pernah mereka rasakan.

MRT adalah sesuatu yang baru di Indonesia. Mungkin saking menariknya, masyarakat menganggap MRT sebagai tempat hiburan baru, bukan sekedar pilihan moda transportasi baru di Indonesia.

Lalu apa yang ingin saya sampaikan? Sepertinya berbicara tentang etika mengingatkan sudah banyak dijelaskan orang ya, tapi kali ini saya ingin menggarisbawahi bahwa kata dan hinaan ‘kampungan’ terhadap orang-orang yang sesungguhnya memang belum paham adalah menyakitkan. Tugas kita lah, yang sudah pernah memiliki kesempatan untuk belajar dan memahami hal yang benar untuk membantu menjelaskan kepada sekitar kita yang belum mendapatkan kesempatan untuk belajar dan memahami hal tersebut.

Kadang stigma ‘kampungan’ ini berakar juga terhadap kesempatan orang yang bahkan tidak ada sangkut pautnya sama sekali dengan etika dan kebiasaan. Saya ingat, berkat MRT akhirnya mendorong saya untuk masuk PERTAMA KALINYA ke Plaza Indonesia. Iya, seorang Dira yang besar dan lahir di Jakarta sejak hampir 27 tahun yang lalu belum pernah sebelumnya ke Plaza Indonesia. Saat saya mencoba naik MRT, kebetulan stasiun dan pintu keluar yang saya jajaki adalah persis di depan Plaza Indonesia. Saya masuk ke dalam dan langsung bertanya kepada customer service nya dimana lokasi restoran-restoran berada, karena saat itu sudah masuk jam makan siang. Sang CS pun seperti memicingkan mata, semi merendahkan saya seakan orang ‘kampungan’ yang belum pernah ke Plaza Indonesia. Padahal, apa salahnya saya yang belum pernah ke Plaza Indonesia? Dalam segala hal, selalu ada yang pertama toh?

Sepulang kantor, saya cerita ke Bapak saya tentang pertama kali nya masuk ke Plaza Indonesia. Beliau terkekeh dan mengatakan, dulu saat keluarga kami memiliki restoran Jepang di daerah perkantoran di Sudirman, Bapak saya selalu memesan bahan makanannya di Plaza Indonesia. Lalu mengapa saya belum pernah ke Plaza Indonesia? Karena memang dirasa selama ini belum perlu. Bahkan termasuk Plaza Senayan pun, pertama kali saya datangi saat saya sudah bekerja karena Plaza Senayan kebetulan bersebelahan dengan kantor saya. Ah ya, saya baru teringat. Orangtua saya memang sedari kami kecil mengajari seluruh anaknya untuk ‘diet ke mall’ karena menurut beliau-beliau, mall hanya mengajarkan kita untuk hidup konsumtif. Sehingga, jika memang diperlukan sekali ke mall, sedari kecil kami hanya dibawa ke mall di dekat rumah, pun untuk nonton bioskop, orangtua saya lebih sering membawa kami ke bioskop di TIM karena katanya sekalian datang ke toko buku samping bioskopnya. Kemudian pertanyaannya, apakah saya menjadi golongan masyarakat kampungan karena belum pernah ke Mall-Mall yang ada di Jakarta?

Saat saya baru masuk kuliah di Fakultas Hukum UGM, saya berkenalan dengan kakak kelas yang sudah melalang buana keliling dunia untuk mengikuti kompetisi peradilan semu dan arbitrase skala internasional. Saya ungkapkan kekaguman saya dan ciut karena merasa payah dengan kemampuan saya yang tidak sekeren dia. Dan kakak kelas saya ini justru mengungapkan, “Dira, ga ada orang gak pinter, ga ada orang gak keren, gak ada orang kampungan gak ngerti ini itu. Ini cuma masalah kesempatan aja. Alhamdulillah kakak dapet kesempatan lebih cepat untuk bisa merasakan semua ini. Kesempatanmu, itu kamu sendiri yang tentukan kapan mau kamu ambil, ayo segera dikejar!”. Gila, pindah ke Yogyakarta membuat saya bertemu banyak sekali orang-orang rendah hati tapi prestasi dan pencapaian yang luar biasa, tapi mereka semua tidak serta merta menganggap orang-orang yang belum mencapai prestasi dan pencapaian yang mereka dapatkan adalah orang kampungan.

Bisa jadi, justru yang perlu ‘diajari’ lebih lanjut adalah kita-kita ini, yang secara tidak sadar sudah mengakar untuk menganggap yang tidak mengerti adalah orang ‘kampungan’. Merasa superior kadang membuat kita enggan untuk terus belajar, termasuk untuk belajar bagaimana berkomunikasi yang santun dengan masyarakat yang mungkin dianggap ‘tidak sepadan’ dengan diri kita.

Jadi, ini hanya masalah kesempatan, dan kita, yang merasa diri kita tidak ‘kampungan’, saatnya kita merefleksikan diri sendiri, dan bantu teman-teman yang lain. Tidak dengan mempermalukan mereka, tapi dengan memberi kesempatan untuk bisa belajar bersama.

Comments are closed.